Sunday, September 21, 2008

MENGENALI MALAM LAILAT AL- QADAR ...

Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita berbicara tentang surat Al-Qadar.
Surat Al-Qadar adalah surat ke-97 menurut urutannya dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqra'.
Para ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'.
Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.
Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah Allah Swt., dan dari perurutannya ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.
Kalau dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu antara lain adalah Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni suratAl-Qadar ini berbicara tentang turunnya Al-Quran, dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.
Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran "lebih baik dari seribu bulan."
Tetapi apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu, atau terjadi setiap bulan Ramadhan sepanjang masa?
Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air,heningnya malam, dan menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dan sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.
Yang pasti dan harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran bahwa, "Ada suatu malam yang bernama Lailat Al-Qadar, dan bahwa malam itu adalah malam yang penuhberkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QSAl-Dukhan [44]: 3-5). Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr[97]: l). Malam tersebut adalah malam mulia. Tidak mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal ini disyaratkan oleh adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu: Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2) Tiga belas kali kalimat ma adraka terulang dalam Al-Quran, sepuluh di antaranya mempertanyakan tentang kehebatan yang berkait dengan hari kemudian, seperti: Ma adraka ma yaum al-fashl, dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia, kalau enggan berkata mustahil dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari angka tiga belas itu adalah: Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (QS Al-Thariq [86]: 2) Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS Al-Balad [90]: 12) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2) Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan dengan objek pertanyaan yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh akalpikiran manusia. Walaupun demikian, sementara ulama membedakan antara pertanyaan ma adraka dan ma yudrika yang juga digunakan Al-Quran dalam tiga ayat. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63) Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? (QS Al-Syura [42]: 17~. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)? (QS 'Abasa [80]: 3). Dua ayat pertama di atas mempertanyakan dengan ma yudrika menyangkut waktu kedatangan kiamat, sedang ayat ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. Ketiga hal tersebuttidak mungkin diketahui manusia. Secara gamblang Al-Quran --demikian pula As-Sunnah-- menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat, tidak pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Iniberarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang wa ma adraka, walau berupa pertanyaan namun padaakhirnya Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau. Demikian perhedaan kedua kalimat tersebut. Ini berarti bahwa persoalan Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di sanalah kita dapat memperoleh informasinya. Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai demikian? Di sini ditemukan berbagai jawaban. Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti: 1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan firman Allahdalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar, diartikan bahwa padamalam itu Allah Swt. mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw., guna mengajak manusia kepada agama yang benar, yang pada akhirnya akan menetapkanperjalanan sejarah umat manusia baik sebagai individu maupun kelompok. 2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran, serta karena ia menjadi titik tolak dari segalakemuliaan yang dapat diraih. Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat. 3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karenabanyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskandalam surat Al-Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara 1aindalam surat A1-Ra'd (13): 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya). Ketiga arti tersebut pada hakikatnya dapat menjadi benar,karena bukankah malam tersebut adalah malam mulia, yang biladiraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan bahwa padamalam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaiandan ketenangan. Namun demikian, sebelum kita melanjutkanbahasan tentang Laitat Al-Qadar, maka terlebih dahulu akandijawab pertanyaan tentang kehadirannya adakah setiap tahunatau hanya sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belasabad yang lalu? Dari Al-Quran kita menemukan penjelasan bahwa wahyu-wahyuAllah itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karenaumat sepakat mempercayai bahwa Al-Quran telah sempurna dantidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., makaatas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam muliaitu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh olehmalam tersebut adalah karena ia terpilih menjadi waktuturunnya Al-Quran. Pakar hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganutpaham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah bersabdabahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi. Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena merekaberpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak tekshadis yang menunjukkan bahwa Lailat Al-Qadar terjadi padasetiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasululllah Saw. menganjurkanumatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu,secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu duapuluh Ramadhan. [tulisan Arab] Demikian sabda Nabi Saw. Memang turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu terjadipada malam Lailat Al-Qadar, tetapi itu bukan berarti bahwaketika itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwakemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika ituturun, tetapi karena adanya faktor intern pada malam itusendiri. Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk katakerja mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yangmengandung arti kesinambungan, atau terjadinya sesuatu padamasa kini dan masa datang. Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiaporang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya itu?Tidak sedikit umat Islam yang menduganya demikian. Namundugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu dapatberarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjagabaik untuk menyambutnya maupun tidak. Di sisi 1ain berartibahwa kehadirannya ditandai oleh hal-hal yang bersifatfisik-material, sedangkan riwayat-riwayat demikian, tidakdapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Seandainya, sekali lagi seandainya, ada tanda-tanda fisikmaterial, maka itu pun takkan ditemui oleh orang-orang yangtidak mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa gunamenyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin akan menyatu danbertemu. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh LailatAl-Qadar tidak mungkin akan diraih kecuali oleh orang-orangtertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke satu tempat,tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupunsetiap orang di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yangsangat rindu atas kedatangan kekasih, namun ternyata sangkekasih tidak sudi mampir menemuinya? Demikian juga dengan Lailat Al-Qadar. Itu sebabnya bulanRamadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalahbulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia didugaoleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.Karena, ketika itu, diharapkan jiwa manusia yang berpuasaselama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai satu tingkatkesadaran dan kesucian yang memungkinkan malam mulia ituberkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya Rasul Saw.menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri danmerenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, danLailat Al-Qadar datang menemui seseorang, ketika itu, malamkehadirannya menjadi saat qadar dalam arti, saat menentukanbagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saatitu, bagi yang bersangkutan adalah saat titik tolak gunameraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhiratkelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna menyertaidan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajarkehidupannya yang baru kelak di hari kemudian. (Perhatikankembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!). Syaikh Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazalitentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh memberiilustrasi berikut: Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu. Yang membisikkan kebaikan adalah malaikat, sedang yangmembisikkan keburukan adalah setan atau paling tidak, kata'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat atausetan. Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemuiorang yang mempersiapkan diri menyambutnya, menjadikan yangbersangkutan akan selalu disertai oleh malaikat. Sehinggajiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan,dan dia sendiri akan selalu merasakan salam (rasa aman dandamai) yang tak terbatas sampai fajar malam Lailat Al-Qadar,tapi sampai akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di harikemudian kelak. Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambilmengamalkan i'tikaf di masjid dalam rangka perenungan danpenyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktivitaskebajikan bermula di masjid. Di masjid pula seseorangdiharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, sertadapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa danpikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengkayaaniman. Itu sebabnya ketika melaksanakan i'tikaf, dianjurkanuntuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran, atau bahkanbacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa. Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kaliadalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung tentangdiri beliau dan masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapaikesuciannya, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran danmembimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalamperjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.Karena itu pula beliau mengajarkan kepada umatnya, dalamrangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar itu, antara 1ainadalah melakukan i'tikaf. Walaupun i'tikaf dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktuberapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i, walausesaat selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw.selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulanpuasa. Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambilberdoa. Salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayatimaknanya adalah: Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201). Doa ini bukan sekadar berarti permohonan untuk memperolehkebajikan dunia dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebihlagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraihkebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yangdisertai usaha. Permohonan itu juga berarti upaya untukmenjadikan kebajikan dan kebahagiaan yang diperoleh dalamkehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di dunia,tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak. Adapun menyangkut tanda alamiah, maka Al-Quran tidakmenyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal tersebut,tetapi hadis tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakarhadis yang dikenal melakukan penyaringan yang cukup ketatterhadap hadis Nabi Saw. Muslim, Abu Daud, dan Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkanmelalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut, Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas ... Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan karena itukita dapat berkata bahwa tanda yang paling jelas tentangkehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian danketenangan. Semoga malam mulia itu berkenan mampir menemuikita.

No comments: